Sayang, aku sayang kamu (!)
sayang, pernahkah kamu berfikir sedikit saja untuk mengesampingkan keinginan dan mengedepankan kebutuhan?
sayang, pernahkah kamu berfikir sedikit saja menoleh ke kanan dan kirimu dan setidaknya 'memperdulikan' sesuatu yang disana?
sayang, pernahkah kamu berfikir untuk sedikit saja perduli terhadap partikel-partikel yang hidup didalam dirimu?
ini bukan kamu yang aku mau. bukan aku melarang kamu untuk melakukan hal yang kamu suka, tidak.
bukan aku melarang kamu untuk melakukan hal yang bagimu menyenangkan, tidak.
bukan aku melarang kamu untuk bersenang-senang, tidak.
aku hanya ingin kamu sedikit lebih perduli.
jika kamu masih acuh tak acuh terhadap jalan yang kamu lewati, kerikil yang menghalangi kamu abaikan, debu yang tebal itu tetap kamu hisap, hujan yang lebat itu tetap kamu biarkan menderu deras menempa tubuhmu, apakah kamu berfikir bahwa kamu akan kuat sampai ke tempat tujuan yang akan kamu capai? tidak sama sekali.
ketika kamu menemukan kerikil yang bisa membuatmu tersandung, akan ada baiknya jika kamu melompat.
jika kamu melihat dan menghisap debu yang terbawa kencang oleh angin, akan ada baiknya jika kamu melindungi hidung, mata, dan mulutmu.
jika kamu tertempa hujan lebat , akan ada baiknya jika kamu membawa payung, atau berteduh sejenak.
Apa jadinya jika kamu mengabaikan kerikil-kerikil tersebut? kamu jatuh, ya. jatuh. mungkin tidak terlalu sakit, tapi itu dapat menimbulkan luka, yang jika kamu jatuh lagi. itu sakit.
dan apakah bedanya kamu dengan keledai yang jatuh ke lubang yang sama jika kamu jatuh berkali-kali hanya karna kerikil?
dan apakah bedanya kamu dengan keledai yang jatuh ke lubang yang sama jika kamu merasa kedinginan berkali kali karena kamu terderu oleh hujan?
orang-orang bilang, jangan buat semua itu halangan. maju terus pantang mundur. ya, betul. maju terus. tapi bagi orang seperti kita yang dikaruniai akal fikiran dengan berjuta juta jaring sel didalamnya, secara automatis kita akan melompat ketika melihat kerikil, atau minimal menghindari agar tidak tersandung, agar nantinya tidak menghalangi jalan kita untuk terus sampai tujuan.
apakah kamu harus menemukan batu besar yang menghalangi sebagian besar jalanmu dulu sampai kamu bisa berhenti dan berfikir jernih sejenak? terlambat! kamu sudah sakit dan kamu sudah lelah. terlalu lelah untuk jatuh dan kedinginan sehingga tak ada lagi tenaga untuk menggeser batu besar tersebut.
aku ini lemah. ya, lemah. aku ini bukanlah superwoman ataupun hero macam apapun itu yang bisa menompang segalanya. aku juga bukan seseorang yang pintar akan segala hal. tapi aku hanya berusaha membuat kamu menjadi nyaman dengan kamu, dan aku nyaman dengan aku. tapi bukan begini.
setiap sesuatu itu ada aturannya, dan setiap manusia punya peraturan yang harus ditaati. jika kamu tidak mematuhi peraturan yang kamu buat sendiri, atau kamu tidak sanggup untuk mematuhinya, maka kamu membutuhkan seseorang untuk membantumu perlahan mematuhinya.
jika kamu tak sanggup melompat ketika kerikil-kerikil itu terlalu banyak, maka kamu butuh berpegang kepada seseorang untuk membantumu melompat. kamu tidak bisa sendiri, kamu harus mencoba untuk mengulurkan tangan, karena itu adalah hal yang lazim untuk dilakukan oleh setiap manusia.
jika kamu terlalu egois terhadap dirimu sendiri, dan kamu berfikir bahwa kamu bisa, dan kamu mengabaikan uluran tanganku, dan kamu jatuh. maka aku tidak bisa apa-apa selain hanya membantumu berdiri, bukan mengobati rasa sakitmu.
jika kamu terlalu acuh terhadap setiap partikel kecil yang kau bawa disetiap nafasmu, dan kamu biarkan itu terbentur, tercemar, dan terderu oleh rangkaian kerikil, debu, dan hujan tersebut, maka bagaimana kamu bisa perduli terhadap orang lain yang juga membutuhkanmu suatu saat di ujung jalan sana?
aku tidak bisa memaksamu melompat, aku juga tidak bisa memaksamu berteduh, aku hanya bisa berkata 'berhentilah'. membuatmu terpaksa, hanya akan membuatmu semakin dan semakin egois dengan sendirinya, namun jika aku tidak menghalangi jalanmu dan memaksamu menghentikan langkahmu sejenak, kamu tidak akan berubah.
serba salah kan jadi aku?
ketika aku memilih untuk selalu mengingatkan dan mengingatkanmu untuk melompat, berteduh disetiap ada hujan dan batu kerikil yang bermunculan, dan kamu tetap bersikeras dan egois pada dirimu sendiri, dan kamu selalu merasakan sakit yang sama setelah kamu bersikeras tersebut, jangan salahkan aku jika suatu saat aku berhenti mengikuti langkahmu dan membalikkan pandanganku dan berkata 'berjalanlah sesuai yang kau mau, dan aku tidak akan ada disampingmu lagi'.
aku tidak bodoh. aku mudah jenuh dan aku mudah bosan. ketika aku sudah terlalu banyak bilang 'terserah', ketika aku sudah terlalu banyak kesal dan hampir saja memarahimu ketika kamu tetap berjalan ketika hujan, ketika aku sudah terlalu banyak menarikmu dan kamu bersikeras maju ketika terdapat kerikil dihadapanmu, maka semakin kamu melawan disitulah sedikit demi sedikit keperdulian aku terhadap kamu akan pudar seiring dengan keegoisanmu.
dan aku takut suatu saat nanti aku mulai membiarkanmu jatuh dan bangun dengan sendirinya, aku takut membiarkan kamu kedinginan, dan aku takut membiarkan kamu hanya terduduk lelah dan tak sanggup untuk melangkah. aku takut.
aku takut aku lelah melihat kamu jatuh.
tapi jika kamu tetap bersikeras dan teguh dengan itu, maka perlahan aku tidak akan takut dengan rasa ketakutan ku sendiri.
sayang, pernahkah kamu berfikir sedikit saja menoleh ke kanan dan kirimu dan setidaknya 'memperdulikan' sesuatu yang disana?
sayang, pernahkah kamu berfikir untuk sedikit saja perduli terhadap partikel-partikel yang hidup didalam dirimu?
ini bukan kamu yang aku mau. bukan aku melarang kamu untuk melakukan hal yang kamu suka, tidak.
bukan aku melarang kamu untuk melakukan hal yang bagimu menyenangkan, tidak.
bukan aku melarang kamu untuk bersenang-senang, tidak.
aku hanya ingin kamu sedikit lebih perduli.
jika kamu masih acuh tak acuh terhadap jalan yang kamu lewati, kerikil yang menghalangi kamu abaikan, debu yang tebal itu tetap kamu hisap, hujan yang lebat itu tetap kamu biarkan menderu deras menempa tubuhmu, apakah kamu berfikir bahwa kamu akan kuat sampai ke tempat tujuan yang akan kamu capai? tidak sama sekali.
ketika kamu menemukan kerikil yang bisa membuatmu tersandung, akan ada baiknya jika kamu melompat.
jika kamu melihat dan menghisap debu yang terbawa kencang oleh angin, akan ada baiknya jika kamu melindungi hidung, mata, dan mulutmu.
jika kamu tertempa hujan lebat , akan ada baiknya jika kamu membawa payung, atau berteduh sejenak.
Apa jadinya jika kamu mengabaikan kerikil-kerikil tersebut? kamu jatuh, ya. jatuh. mungkin tidak terlalu sakit, tapi itu dapat menimbulkan luka, yang jika kamu jatuh lagi. itu sakit.
dan apakah bedanya kamu dengan keledai yang jatuh ke lubang yang sama jika kamu jatuh berkali-kali hanya karna kerikil?
dan apakah bedanya kamu dengan keledai yang jatuh ke lubang yang sama jika kamu merasa kedinginan berkali kali karena kamu terderu oleh hujan?
orang-orang bilang, jangan buat semua itu halangan. maju terus pantang mundur. ya, betul. maju terus. tapi bagi orang seperti kita yang dikaruniai akal fikiran dengan berjuta juta jaring sel didalamnya, secara automatis kita akan melompat ketika melihat kerikil, atau minimal menghindari agar tidak tersandung, agar nantinya tidak menghalangi jalan kita untuk terus sampai tujuan.
apakah kamu harus menemukan batu besar yang menghalangi sebagian besar jalanmu dulu sampai kamu bisa berhenti dan berfikir jernih sejenak? terlambat! kamu sudah sakit dan kamu sudah lelah. terlalu lelah untuk jatuh dan kedinginan sehingga tak ada lagi tenaga untuk menggeser batu besar tersebut.
aku ini lemah. ya, lemah. aku ini bukanlah superwoman ataupun hero macam apapun itu yang bisa menompang segalanya. aku juga bukan seseorang yang pintar akan segala hal. tapi aku hanya berusaha membuat kamu menjadi nyaman dengan kamu, dan aku nyaman dengan aku. tapi bukan begini.
setiap sesuatu itu ada aturannya, dan setiap manusia punya peraturan yang harus ditaati. jika kamu tidak mematuhi peraturan yang kamu buat sendiri, atau kamu tidak sanggup untuk mematuhinya, maka kamu membutuhkan seseorang untuk membantumu perlahan mematuhinya.
jika kamu tak sanggup melompat ketika kerikil-kerikil itu terlalu banyak, maka kamu butuh berpegang kepada seseorang untuk membantumu melompat. kamu tidak bisa sendiri, kamu harus mencoba untuk mengulurkan tangan, karena itu adalah hal yang lazim untuk dilakukan oleh setiap manusia.
jika kamu terlalu egois terhadap dirimu sendiri, dan kamu berfikir bahwa kamu bisa, dan kamu mengabaikan uluran tanganku, dan kamu jatuh. maka aku tidak bisa apa-apa selain hanya membantumu berdiri, bukan mengobati rasa sakitmu.
jika kamu terlalu acuh terhadap setiap partikel kecil yang kau bawa disetiap nafasmu, dan kamu biarkan itu terbentur, tercemar, dan terderu oleh rangkaian kerikil, debu, dan hujan tersebut, maka bagaimana kamu bisa perduli terhadap orang lain yang juga membutuhkanmu suatu saat di ujung jalan sana?
aku tidak bisa memaksamu melompat, aku juga tidak bisa memaksamu berteduh, aku hanya bisa berkata 'berhentilah'. membuatmu terpaksa, hanya akan membuatmu semakin dan semakin egois dengan sendirinya, namun jika aku tidak menghalangi jalanmu dan memaksamu menghentikan langkahmu sejenak, kamu tidak akan berubah.
serba salah kan jadi aku?
ketika aku memilih untuk selalu mengingatkan dan mengingatkanmu untuk melompat, berteduh disetiap ada hujan dan batu kerikil yang bermunculan, dan kamu tetap bersikeras dan egois pada dirimu sendiri, dan kamu selalu merasakan sakit yang sama setelah kamu bersikeras tersebut, jangan salahkan aku jika suatu saat aku berhenti mengikuti langkahmu dan membalikkan pandanganku dan berkata 'berjalanlah sesuai yang kau mau, dan aku tidak akan ada disampingmu lagi'.
aku tidak bodoh. aku mudah jenuh dan aku mudah bosan. ketika aku sudah terlalu banyak bilang 'terserah', ketika aku sudah terlalu banyak kesal dan hampir saja memarahimu ketika kamu tetap berjalan ketika hujan, ketika aku sudah terlalu banyak menarikmu dan kamu bersikeras maju ketika terdapat kerikil dihadapanmu, maka semakin kamu melawan disitulah sedikit demi sedikit keperdulian aku terhadap kamu akan pudar seiring dengan keegoisanmu.
dan aku takut suatu saat nanti aku mulai membiarkanmu jatuh dan bangun dengan sendirinya, aku takut membiarkan kamu kedinginan, dan aku takut membiarkan kamu hanya terduduk lelah dan tak sanggup untuk melangkah. aku takut.
aku takut aku lelah melihat kamu jatuh.
tapi jika kamu tetap bersikeras dan teguh dengan itu, maka perlahan aku tidak akan takut dengan rasa ketakutan ku sendiri.
Komentar
Posting Komentar
Please don't be silent reader, just here and left your comment and i will be glad to see :). NO SARCASM COMMENT and SARA !