Life Problem...

Life is spinning.
It’s like a tire.
Hidup itu berputar, membuat kita berada di posisi yang berbeda-beda. Kadang diatas. Kadang dibawah. Kadang ditengah. Kadang berhenti. Kadang terus berpindah.
Hidup itu layaknya naik water boom, pas kita mau naik, harus naik tangga dulu, bercape-cape ria, ngantri, dan sabar buat nunggu sampe bagian kita. Dan pas ketika kita turun, swiiiiiing~ it’s just happen within a minute. Yup. Just like life.
Posisi dibawah itu menandakan ketika kita dilanda segala macam cobaan yang bertubi-tubi. And my life is now on the bottom of the line.
Masalah itu datang dari mana aja. Dari kondisi apapun disaat kita sedang seperti apapun. And my life is getting worse since 7 month ago.

November kemaren, awal November kemaren merupakan hari dimana gue merayakan anniversary ke dua. That should be an amazing moment, isn’t it? Gue inget kadang, satu novel yang gue baca yaitu “Kok Putusin Gue?” yang bercerita tentang sepasang kekasih, yang putus tepat dihari perayaan mereka yang pertama, si cowok mutusin ceweknya dengan alasan terlalu baik, padahal ternyata ada cewek lain yang memikat si cowok. Woops, tapi tenang. Itu gak kejadian kok. But, it just happen more worse than the story at that novel.
You know, I never have a special gift in my special day. Anniversary jadian tahun pertama itu hanya dihiasi kata-kata saling mengucapkan dan merayakan satu sama lain lewat SMS. Yang keduanya sama-sama bilang saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. And, I hope something special now.
Anniv yang kedua I hope more than just SMS-an terus bilang “Happy anniv sayang”, yang pada akhirnya gue dan dia bisa jalan seharian, dari pagi sampe malem. Enjoying our moment, together. I’m so happy that time. Really. Ketika gue bisa menikmati rasanya bersama seseorang yang udah dua tahun nemenin gue disaat gue seneng, sedih, susah. Yang selalu bikin gue ketawa, dan juga yang selalu bisa banget bikin gue sakit hati.
But, I suprized. 3 hari kemudian, pagi-pagi dia tiba-tiba Whatsapp dan bilang minta maaf. I don’t know whats happen tapi pas gue tanya kenapa, dia gak bales lagi. And then, that was my really big gift.
He cheated.
A Day before we are enjoying our anniversary.
That’s my biggest painful gift I ever had on my life.
Sehari sebelumnya dia bohong sama gue, yang ternyata dia dating kerumah mantannya. Gak bilang ke gue, dengan segala kata-katanya dengan segala kebohongannya.
You know, I really hurt. I am so much hurt. When knowing that setelah gue merayakan sesuatu hal yang bikin gue bahagia, seketika bahagia itu sirna dengan balasan segala rasa sakit yang sampe sekarang gak sedikit pun hilang. Setelah gue berfikir bahwa lelaki yang selalu gue banggakan dalam hati gue ini, setelah gue berfikir bahwa lelaki yang selalu gue yakinkan adalah masa depan gue, bikin gue kecewa dengan segala perlakuannya.
Sirna semua rasa percaya, bangga, yakin, respect.. dan bahkan rasa sayang, yang hilang seiring dengan dia memberikan kenangan yang teramat sangat menyakitkan.
You know, rasanya kita berbahagia dan yakin pada satu orang, tapi dia malah berbahagia dengan wanita yang lain. I don’t care what the reason behind it, yang jelas. Dia udah rusak semua kepercayaan, kebanggaan, keyakinan gue akan dia.
Seakan kehilangan satu bagian yang paling membahagiakan dalam hidup gue, hidup gue mulai berantakan. Dan gue memilih buat meninggalkan dia yang udah menghancurkan segala rasa yang gue punya. Drama banget ga sih? Iya. Drama banget. Tapi inilah nyatanya. Setelah gue menerima segala rasa sakit hati dan sempat trauma buat sayang sama orang. Seketika dia datang dengan segala rasa yang bikin gue yakin, seketika pula dia bikin gue kembali traumatic buat sayang lagi dan bikin rasa traumatic itu lebih besar dari sebelumnya. I am afraid, for loving anyone anymore.
Disaat gue merasa hancur, disaat itu juga gue dipertemukan dengan seseorang yang mencoba memperbaiki semua rasa yang hancur dan hilang. Namun, disisi lain. Orang yang telah menghancurkan gue ini masih berusaha untuk kembali dan meminta kesempatan yang kesekian kalinya.
Hard decision.
Ketika ada dua orang yang saling bertolak belakang mendatangi gue dan keduanya berlomba-lomba berusaha memperbaiki kondisi hati yang sedang rusak. Mana yang kamu pilih? Yang baru dan berusaha mengganti semua kerusakan dengan yang baru? Atau si penghancur yang datang dengan segala jenis merek lem buat nempelin semua serpihan-serpihan yang rusak?
Dan bodohnya, gue kembali kepada seseorang yang sudah menghancurkan gue itu. Dan meninggalkan dia yang membawa segala sesuatu yang baru. Bego ya? Iya. Bego banget kenapa gue harus mau balikan lagi sama dia yang udah nyakitin gue. Tapi, satu hal yang gue sadar kalo ternyata rasa sayang itu masih ada, walau masih kehalangan *apajuga ini bahasanya* sama segala serpihan yang hancur itu.
Tapi dibalik rasa sayang yang tersisa sedikit, sudah tidak ada lagi rasa yang lain. Rasa perhatian, perduli, kangen, entah rasanya seolah sirna dan menghilang entah kemana. Dan terpaksa gue menjalani sesuatu yang sama sekali gue gak mau, dan pretend to be nothing happen in front of another people. But my hurt is really in pain.
Setelah satu bagian dalam hidup gue hancur *ceilah, puitis binggo*, gue harus dihadapkan lagi dengan permasalahan kuliah gue. Kondisi kampus gue yang terombang-ambing bikin segala kegiatan kuliah *dan kerja* gue terbengkalai. Yang seharusnya sekarang gue sudah menempuh semester enam, gue harus pindah kampus dan ngulang lagi ke satu tahun sebelumnya gara-gara masalah intern kampus. Oke, that’s the next pain. Ketika gue gagal meraih wisuda di 2015. BECAUSE THAT SOMETHING SH*T. My heart is already pain, now my life is getting pain.
Karena keadaan kampus gue yang goyang, otomatis karir gue pun goyang. Gue yang notabenenya staff disana, terpaksa harus menerima keadaan ekonomi yang gak seimbang gara-gara gaji yang dibayar secara termin. Dan udah gitu gak jelas tanggal berapa dan kapannya, dan potongan telat serta potongan gak masuk yang FVCKING NONSENSE gedenya. No slip gaji, No SPK, No Kontrak. Serba gajelas.
Pernah atasan gue bilang, ketika karyawan-karyawannya ngeluh gaji belum dibayar-bayar. Dia bilang, “kerja tuh harus ikhlas, lilahi ta’ala. Jangan ngeluh”. Tapi sayangnya, dia gak ngomong depan muka gue, tapi dia ngomongnya ketika gue gak ada. And when my friends told me that I said, “LAH PAK. EMANGNYE BAYAR KOSAN PAKE PAHALA BISA”
Seriously, gara-gara gaji yang gajelas gue jadi dikejar-kejar sama yang punya kosan gara-gara gue gak bayar kost tepat waktu. Gara-gara gaji yang gajelas gue jadi gajelas juga kehidupannya. Awal bulan gue gak punya duit, akhir bulan punya duit. Pernah sebulan nggak digaji-gaji. Kerja sampe malem tapi nggak ada lembur. GAJI MAKIN KECIL IYA.
Akhirnya, I decided to resign. That’s better dari pada harus nahan emosi kerja rodi.
My heart pain, my academic life ruined. Now, my life is actually really really MESS.
Dan sampai sekarang gue pengangguran. Ya know, mungkin sekarang keadaan hati gue sudah agak lebih baik, karena gue sudah mulai menumbuhkan rasa lagi walaupun sangat teramat sangat really very very slowly progress, but at least its healing. Walaupun terkadang, masih ada rasa nyesek ketika mengingat masa lalu. Gak bisa lupa. Bener-bener gak bisa lupa akan rasa sakit masa lalu.
Rasa sakit liat orang yang kita sayang pacaran sama temen sendiri aja, gue masih jelas dan TAU BANGET sakitnya gimana. Apalagi yang ini, yang baru banget gue rasain.
Tapi keadaan hidup gue masih belum membaik, dan malah makin buruk dengan keadaan keluarga gue juga yang sedang tidak baik. Mama Papa dirumah sibuk ngurusin kakak gue yang lagi sakit, dan gue disini ribet tebar CV sana-sini tapi belum ada panggilan.
Ya, I know this is maybe cobaan hidup gue yang tersulit yang pernah gue alamin. Karena gue sedang tidak dalam kondisi yang bahagia di sisi manapun, tapi gue juga harus tau kalau. Gue harus maju terus. Sebagaimana pun beratnya kondisi gue sekarang, yang makan sehari sekali kalo beruntung, kalo ga beruntung ga makan paling banter makan indomie, tapi gue tau dan gue yakin hidup gue pasti bakalan berubah. I know, and I trust, always. That god have a better plan for me.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

What If...

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.