Berdamai Dengan Rokok.
Rokok itu, pilihan hidup.
Contoh simplenya gini, ada banyak orang yang bilang bahwa perempuan pulang malam itu gak baik, mereka disangka bekerja yang tidak-tidak, bekerja dengan kerjaan yang tidak sesuai norma, dan membawa efek negatif. Padahal, bagi perempuan pelaku, itu adalah profesi yang dia senangi dan mau tidak mau harus ia jalani, diluar dari faktor negatif dan positif. Dan kebanyakan orang, tidak bisa menerima perbedaan baik buruk tersebut... dan banyak contoh-contoh lainnya.
Masih banyak orang yang belum bisa terbuka, akan sesuatu hal yang sama sekali bertolak belakang sama dia, dan intolerant sama perbedaan, padahal perbedaan tersebut bisa membuat kita sedikit banyaknya belajar tentang hidup. Bahkan pasangan sekalipun, walaupun mereka merasa bahwa mereka nyambung dengan pasangannya masing-masing, tetap aja pasti ada perbedaan yang melekat kuat di pribadinya masing-masing, dan yang bikin harmonis adalah ketika mereka masing-masing bisa menghargai perbedaan masing-masing.
Dan semua ini, related sama apa yang gue jalani saat ini.
Selama 24 tahun, my life is rolling so fucking fast like a tire. tahun ini gue begini, tahun besok gue begitu. Saat ini gue begini, besok gue begitu. Semuanya berputar dan berubah-ubah. Life is very very dinamic. Lalu, gue sebagai pengendara harus bisa mengontrol kecepatan roda gue berputar, gue harus mampu menyeimbangi jalannya, supaya tetep pada arahnya, nggak tiba-tiba oleng dan banting kanan-kiri lalu nabrak separator dan pala gue benjol segede bakpau.
Bagaimana cara gue menanganinya? Ya, dengan cara belajar untuk terus beradaptasi setiap harinya. Beradaptasi dengan sosial dan lingkungan yang kita nggak tau, yang kemudian perlahan demi perlahan membuat kita belajar untuk memahami perbedaan, ambil baiknya dan buang buruknya. Atau mau ambil dua-duanya? It's your choice.
Sama seperti gue.
Hidup gue naik turun secara drastis selama 3 tahun belakangan. Tempat kerja yang complicated, hubungan dengan pasangan yang nggak pernah beres, akademik yang hancur, semuanya naik turun, keluarga yang punya banyak masalah, tanggung jawab berat gue terhadap orang tua gue sendiri. Gue dipaksa dan terus dipaksa untuk menjadi pribadi yang bermental kuat, baik secara fisik maupun mental.
Semua kehidupan yang seperti itu membuat gue menjadi orang yang sangat maskulin. Setiap hari harus mengambil keputusan, mengatur jadwal, mengatur waktu untuk diri sendiri, mengayomi banyak orang, menjadi poros untuk jalannya sebuah sistematis, menjadi pusat dari semua persoalan, menjadi tumpuan banyak orang.
Kalau orang banyak bertumpu sama gue, lalu gue bertumpu sama siapa? Saat itu, ya gue bertumpu pada diri gue sendiri.
Semakin banyak beban yang gue terima, semakin stress gue menghadapinya, nggak punya pelampiasan yang layak untuk gue buang semua beban gue, yang pada akhirnya gue lari kemana? Ya, rokok.
Pada saat itu, gue nggak punya pelampiasan lain selain nikotin yang somehow calming my mind. Do I break my idealism? Yes. Big yes.
Gue yang tidak pernah berdamai dengan rokok, saat ini sangat-sangat baik dengan dia. Dan pada saat itu gue sangat menyadari bahwa, itu pilihan. Pilihan yang gue ambil dan akan gue jalani pada akhirnya.
Gue pernah bilang, dulu. Mau kayak gimanapun gue, gue gak bakalan ngerokok, engga. Tapi, pada akhirnya semua berbalik. Yang kemudian kejadian ini menjadi pembelajaran besar bagi gue bahwa, gue gak tau sesuatu yang gue tidak pernah alami dan gue hujat abis-abisan pada orang lain, pada akhirnya semua berbalik pada gue. Dan gue, saat ini merasa tidak pantas untuk menghujat perbedaan orang lain.
Gue masih berfikir, betapa childish-nya gue dulu, menyangka bahwa orang yang merokok itu buruk. Mindset gue di-setting sedemikian rupa untuk mempunyai pemikiran, yang bahkan gue bilang itu masih sempit. Kenapa gue bilang sempit?
Karena, gue masih melihat semua faktor hidup hanya dari satu sisi yang mau gue lihat aja. Gue pada saat itu, belum pernah mencoba untuk memperluas pandangan gue dan memperlebar wawasan hidup gue. Gue masih berusaha stuck dan bertahan pada idealisme gue.
Rokok itu buruk, kalau lo ngerokok berarti lo ngga sayang sama diri lo sendiri.Pemikiran seperti itu gue dapat dari lingkungan kecil gue, semua orang menuntut. Ini jelek, ini jelek, itu jelek, itu gak baik. Semua disebut yang gak baik menurut mereka. Tapi, baik buruknya sesuatu, jelek baiknya sesuatu, ya semua balik lagi atas dasar pribadi masing-masing. Menurut kita jelek, bisa saja menurut dia bagus. Menurut kita baik, belum tentu baik menurut mereka.
Contoh simplenya gini, ada banyak orang yang bilang bahwa perempuan pulang malam itu gak baik, mereka disangka bekerja yang tidak-tidak, bekerja dengan kerjaan yang tidak sesuai norma, dan membawa efek negatif. Padahal, bagi perempuan pelaku, itu adalah profesi yang dia senangi dan mau tidak mau harus ia jalani, diluar dari faktor negatif dan positif. Dan kebanyakan orang, tidak bisa menerima perbedaan baik buruk tersebut... dan banyak contoh-contoh lainnya.
Masih banyak orang yang belum bisa terbuka, akan sesuatu hal yang sama sekali bertolak belakang sama dia, dan intolerant sama perbedaan, padahal perbedaan tersebut bisa membuat kita sedikit banyaknya belajar tentang hidup. Bahkan pasangan sekalipun, walaupun mereka merasa bahwa mereka nyambung dengan pasangannya masing-masing, tetap aja pasti ada perbedaan yang melekat kuat di pribadinya masing-masing, dan yang bikin harmonis adalah ketika mereka masing-masing bisa menghargai perbedaan masing-masing.
Dan semua ini, related sama apa yang gue jalani saat ini.
Selama 24 tahun, my life is rolling so fucking fast like a tire. tahun ini gue begini, tahun besok gue begitu. Saat ini gue begini, besok gue begitu. Semuanya berputar dan berubah-ubah. Life is very very dinamic. Lalu, gue sebagai pengendara harus bisa mengontrol kecepatan roda gue berputar, gue harus mampu menyeimbangi jalannya, supaya tetep pada arahnya, nggak tiba-tiba oleng dan banting kanan-kiri lalu nabrak separator dan pala gue benjol segede bakpau.
Bagaimana cara gue menanganinya? Ya, dengan cara belajar untuk terus beradaptasi setiap harinya. Beradaptasi dengan sosial dan lingkungan yang kita nggak tau, yang kemudian perlahan demi perlahan membuat kita belajar untuk memahami perbedaan, ambil baiknya dan buang buruknya. Atau mau ambil dua-duanya? It's your choice.
Sama seperti gue.
Hidup gue naik turun secara drastis selama 3 tahun belakangan. Tempat kerja yang complicated, hubungan dengan pasangan yang nggak pernah beres, akademik yang hancur, semuanya naik turun, keluarga yang punya banyak masalah, tanggung jawab berat gue terhadap orang tua gue sendiri. Gue dipaksa dan terus dipaksa untuk menjadi pribadi yang bermental kuat, baik secara fisik maupun mental.
Kuat? Nggak juga. Kuat itu relatif. Gue bisa aja 'terlihat' kuat dengan segala dinamika hidup yang super duper random, but someday I would love to cry over everything i've been trought, lalu bilang sama Tuhan "saya belum sanggup menanggung semuanya sendirian".
Semua kehidupan yang seperti itu membuat gue menjadi orang yang sangat maskulin. Setiap hari harus mengambil keputusan, mengatur jadwal, mengatur waktu untuk diri sendiri, mengayomi banyak orang, menjadi poros untuk jalannya sebuah sistematis, menjadi pusat dari semua persoalan, menjadi tumpuan banyak orang.
Kalau orang banyak bertumpu sama gue, lalu gue bertumpu sama siapa? Saat itu, ya gue bertumpu pada diri gue sendiri.
Semakin banyak beban yang gue terima, semakin stress gue menghadapinya, nggak punya pelampiasan yang layak untuk gue buang semua beban gue, yang pada akhirnya gue lari kemana? Ya, rokok.
Pada saat itu, gue nggak punya pelampiasan lain selain nikotin yang somehow calming my mind. Do I break my idealism? Yes. Big yes.
Gue yang tidak pernah berdamai dengan rokok, saat ini sangat-sangat baik dengan dia. Dan pada saat itu gue sangat menyadari bahwa, itu pilihan. Pilihan yang gue ambil dan akan gue jalani pada akhirnya.
Gue pernah bilang, dulu. Mau kayak gimanapun gue, gue gak bakalan ngerokok, engga. Tapi, pada akhirnya semua berbalik. Yang kemudian kejadian ini menjadi pembelajaran besar bagi gue bahwa, gue gak tau sesuatu yang gue tidak pernah alami dan gue hujat abis-abisan pada orang lain, pada akhirnya semua berbalik pada gue. Dan gue, saat ini merasa tidak pantas untuk menghujat perbedaan orang lain.
Belajarlah untuk bisa damai dengan dirimu dan orang lain. Belajarlah untuk menerima perbedaan. Belajarlah untuk terus memperluas wawasanmu, agar pemikiranmu tidak mengalami stagnansi.
Komentar
Posting Komentar
Please don't be silent reader, just here and left your comment and i will be glad to see :). NO SARCASM COMMENT and SARA !