Thankyou, Middle End 2019.

Terkadang setiap umat manusia itu perlu waktu untuk bisa menikmati hidup. Dan mereka, tak bosan-bosannya terus-terusan mencari kenikmatan tersebut. Dan setiap manusia mempunyai cara dan jalan yang berbeda-beda untuk menikmati hidup mereka.

Kembali ke dunia blogging. Gue kembali ke dunia menulis, akhirnya. Karena ternyata gue baru sadar stress relief paling gampang dan menenangkan adalah, menulis. Jauh lebih gampang dibanding harus cape cari orang buat curhat, atau cerita panjang lebar sama orang yang belum tentu orang itu mau dan paham apa yang kita rasain. Menulis menjadi salah satu sarana, yang lo gak perduli dibaca apa enggak, tapi setidaknya, lo gak pernah ngerasa kalau menulis itu membuat lo merasa tertolak akan apa yang sudah lo tulis.

Disini, gue mau cerita satu hal, yang sampai saat ini gue masih terlalu feel amazed buat mengingat semua perjalanan singkatnya. Terlalu cepat. Terlalu mendadak. Terlalu tiba-tiba. Terlalu. Terlalu. Terlalu. Semuanya, sungguh terlalu.

Dulu, gue pernah bertekad diri. Setelah lelah menjalani hubungan sana-sini yang nggak jelas, mulai lagi dari awal, kandas, mulai lagi, kandas lagi, lalu akhirnya menyerah. Gue sampe titik fase dimana gue bilang sama Tuhan, kalau.. Tuhan, gue pasrah.

Gue pasrah akan pilihan dia. Apabila gue dipertemukan akhirnya, maka pertemukanlah. Jika belum, maka jangan pernah biarkan aku terlarut dalam hubungan yang sia-sia.

Tekad itu, muncul dari terakhir gue putus dari mantan psychopath gue, 2017 akhir saat itu. Dan sampai sebelum agustus 2019 kemarin, gue belum sedikit pun memantapkan diri untuk menjalin hubungan lagi. Sempat dekat dengan beberapa orang namun tidak pernah membuat komitmen, mungkin itu jalan dari Tuhan dan jawaban dari doa-doa gue yang selalu gue panjatkan lima kali sehari setiap harinya.

Bahkan, gue ada dalam satu fase dimana gue menyerah, sampai pada titik gue merasa putus asa nggak bakal dapet orang yang bisa 100% understand and accept me as I am. Gak, nggak ada yang bisa. Nggak ada yang paham kondisi emotional gue yang seperti apa sampai saat ini.

Ketakutan gue akan rasa sakit akan resiko menjalani hubungan juga jadi salah satu trigger gue untuk tidak memantapkan diri menjalin hubungan. Gue paham, diri gue ini belum baik. Gue belum pantas untuk bersanding sama orang dan tumbuh bersama-sama kalau diri gue sendiri belum mau tumbuh dan berkembang atas keinginan gue sendiri. Gue paham, kalau gue perlu untuk membangun kepribadian gue menjadi pribadi yang jauh lebih baik, jauh lebih sabar, jauh lebih matang, jauh lebih mapan.

Karena, gue bertekad untuk berhenti menjalin hubungan main-main, dan apabila sampai satu saat nanti gue menemukan satu orang yang pas, dan cocok untuk diri gue, maka gue akan memantapkan diri gue untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi seseorang yang paling baik buat dia, bukan buat orang lain yang come and go passing by and left a scar. Dan gue belum pernah, mengeluarkan sisi paling baik gue paska gue putus dari mantan gue yang pertama 4 tahun lalu.

Jauh didalam diri gue simpan semuanya baik-baik dalam kotak, pribadi yang sudah lama gue susun dan gue bina jauh-jauh hari dan bahkan sampe sekarang masih gue usahakan untuk tetap baik. Khawatir orang lain akan merebut itu dan menghancurkannya, menghempaskan ntah kemana dan membuat gue merasa jadi orang yang paling sia-sia dimuka bumi ini.


Fase kepasrahan itu, nggak berhenti terus gue doakan. Ulang dan terulang terus sampe pertengahan agustus lalu, secara tidak sengaja gue dipertemukan dengan satu orang anonimus entah dari mana come and talk to me.

Gue berbicara dengan puluhan orang anonimus, ngalor ngidur, sharing tentang kehidupan, mengambil intisari hikmah dari setiap kehidupan manusia namun belum pernah ada satupun yang membuat gue, mengganti doa gue dari yang pasrah menjadi harapan. Belum. Belum ada.

Sampai dia yang mengubahnya.

Kenapa? I can't tell. Yang ada diotak gue saat kali pertama bertemu adalah, Tuhan, apabila ternyata dia adalah jawaban dari setiap kepasrahan yang selama ini aku panjatkan kepada-Mu, maka berikanlah petunjuk dengan mempertemukan kami kembali.

Dan terjadi.

Sebuah fase transisi yang terjadi begitu cepat didalam hidup gue, sampai gue gak sanggup buat nerimanya. Menerima fase yang terjadi terlalu cepat ini membuat gue dibayang-bayang keraguan yang teramat sangat pada saat itu. Tercampur dengan throwback kejadian-kejadian yang pernah gue alami, ketakutan gue akan sesuatu yang terulang, keraguan gue akan kepantasan diri gue sendiri, semua menjadi satu sampai gue nggak tau harus ambil jalan yang seperti apa.

Gue harus ambil keputusan seperti apa? Gue belum berani.

Untuk pada akhirnya memantapkan hati, ayo kita jalin hubungan ini sama sama, pada saat itu gue sangat-sangat tidak berani. Gue takut gue belum pantas, gue belum jadi sosok perempuan yang pantas untuk orang lain kagumi, kekurangan gue masih banyak, apa iya gue siap pada akhirnya menjalin hubungan lagi?

Sampai akhirnya, tanpa gue sadari dia adalah satu-satunya nama yang pernah tersebut, dan masuk kedalam doa yang selalu gue panjatkan, dengan doa yang sama, dengan nama yang sama. Memberanikan diri untuk jalan kedepan atas seizin Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah mengkhianati hambanya.

Menangis berkali-kali dalam doa, semua tersebut. Semua keraguan, semua ketakutan, semua harapan tersebut terangkat didalam satu cerita seorang hambanya dengan Tuhan. Tak pernah merasa setakut itu, sampai meminta jawaban-Nya.
 
Namun pada akhirnya, semua berjalan atas seizin-Nya. Ia yang memantapkan hati gue, pada akhirnya, dia dan Ia adalah sebuah kombinasi antara jawaban Tuhan dan hambanya telah menunjukan gue arah, iya gue harus yakin pada diri gue sendiri. Mereka menjalin sinkronasi yang seiring, menggiring gue untuk berani melangkah lebih jauh beriringan dengan langkah kaki orang lain disamping gue.

Dan sampai saat ini, dia yang terbaik. Terbaik dari yang pernah gue terima dan gue alami sampai saat ini. Dan semoga, akan terus menjadi yang paling baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What If...

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.