Mentally Unstable
Ada banyak sekali hal yang ingin gue ceritakan disini. Saking banyaknya, gue gatau lagi, harus mulai dari mana. Semua tentang bagaimana fenomena-fenomena didunia ini mulai bermunculan dengan tidak baik. Bumi, kamu kenapa?
Udah mau masuk 3 minggu, masa-masa WFH. Well, actually i've been being a worker from home since a year ago. But... ngga pernah kondisi tersebut menjadi se-depressed ini.
Awal cerita tahun 2020 gue, menggemparkan. Padahal, ada banyak rencana-rencana yang gue susun diawal tahun untuk menjadi bagian memperbaiki diri sendiri. Tapi, entah kenapa semesta tidak mengizinkan gue mengawali dan menjalani semuanya semudah itu. Bahkan semesta memberikan cobaan yang begitu besar bagi banyak orang.
A Never Ending Affection Problem
Gue mengakhiri tahun 2019 gue dengan semua cerita menarik dan penuh dengan kebahagiaan, namun memulai 2020 dengan segala naik turun. Dari yang ceritanya penuh dengan afeksi, tetiba semuanya berbalik 180 derajat secara drastis tanpa aba-aba.
It's not a first time for me, tho...
Gue menjadi orang yang freakingly overthinking about something. Gue jadi orang yang sangat-sangat insecure, attention seeker, childish, emotionally uncontrol, and such ketika otak gue berhenti bekerja. First month in twenty-twenty, gue menjadi 'pekerja rumahan dibayar' yang tidak ada kesibukan apapun. Sehari-hari bangun siang, makan, lalu nonton, nongkrong, tidur, bangun siang, makan, nonton, nongkrong, begitu terus berulang-ulang tanpa ada productivity yang jelas. Sedangkan berkebalikan dengan dia yang mulai sibuk mengembangkan dunianya sendiri. Gue berusaha untuk mengerti sampai akhirnya gue kekurangan asupan afeksi yang gue butuhkan, tapi gue menjadi orang yang egois ketika meminta afeksi dan atensi yang berlebihan. 'Ini hanya ego gue yang pengen ditemenin aja, kok'
Sampai pada akhirnya gue memutuskan untuk mencari kesibukan dan produktifitas lain, my brain is fucking freezing, at that time.
Sampai pada akhirnya masuk ke bulan kedua, keadaan menjadi semakin menjadi. The pandemic become serious issue, and something unexpected happen, i need to keep my supply need, once more. Tidak ada konflik yang serius, karena gue paham betul kondisi-kondisi dengan segala reason-nya.
Sampai masuk ke bulan ketiga, ternyata tidak ada perubahan, bahkan 'terasa menjadi semakin jauh walaupun secara garis maps, dekat'. Konflik-konflik kecil mulai muncul, because a lot of things i've been hold for a quiet longtime, sometimes I got explode. Sampai kondisi kesehatan mental gue terombang-ambing. My moodswing relapse.
Sampai pada akhirnya gue sadar bahwa, gue gak akan menjadi rohaniah sehat apabila gue terus mencari afeksi. Our life, is not only about affection. I do need them, but I can not ask for more. Sampai pada akhirnya sempat merasa bahwa rumah yang gue punya terasa hampa, but then I realize I can't always holdin' on that thing anymore. Gue tidak bisa terus menggantungkan diri, bermanja meminta. Pada akhirnya, gue kembali bergantung pada diri sendiri, bahwa kesenangan pribadilah kunci utama kesehatan mental gue. Carilah kesenangan gue, dikala dia sedang berjuang diluar sana mengembangkan diri. Bukan salah ia yang mengurangi atensinya, tapi keadaannya bukan lagi untuk menebar kehangatan peluk, dan kita tidak bisa meminta orang lain untuk mengerti apa yang kita rasakan karena tidak semua orang dapat mengerti apa yang kita rasakan. Diri sendirilah yang bisa mengerti sepenuhnya apa yang kita butuhkan.
Unproductivity action
Pada akhirnya, gue sadar semua bersumber pada kurangnya asupan adrenaline. I need them, for fuck sake. 3 tahun terakhir gue menghabiskan semua energi, menguras, mengolah, dan tidak berhenti berfikir untuk semua pekerjaan yang sangat adrenaline rush, dan gue baru sadar gue sangat menikmati itu walaupun banyak orang bilang, sangat melelahkan. Ternyata gue butuh, sesuatu yang baru dan menantang, memaksa gue untuk berfikir lebih keras. Di 2020 ini, gue tidak mendapatkannya, semua berjalan begitu saja tanpa ada halang rintang yang berarti, tanpa ada debat diskusi yang panjang, tanpa ada pemikiran konsep yang panjang dan alot, begitu saja.
Ditambah kondisi WFH yang membuat gue semakin tidak merasakan adrenalin itu kembali. Dan gue iri, dia punya banyak kegiatan yang harus dilakukan. Harus ngurusin ini, ngurusin itu, sibuk kesana, kesini, gue? Being isolate at home, standby zoom hearing my workmate talking while checking on his work, and... done.
Tidak bisa bangun pagi, buru-buru mandi lalu langsung berangkat kekantor karena kesiangan, buru-buru masuk ke stasiun dan mengejar kereta. Tidak ada kekhawatiran telat absen, tidak ada masa-masa melihat orang duduk disamping kita dan wondering apa yang sedang dia rasakan, tidak ada meeting sama client dan presentasi. Tidak ada bikin materi dan presentasi-presentasi baru, tidak ada checking server, no.
I'm so fucking depressed. This condition is so depressing.
Gue sampai bosan beresin rumah sampe ngga ada lagi yang harus diberesin, bosan scrolling grabfood saking bingungnya mau pesan apalagi, bosan nonton saking bingungnya mau nonton apalagi.
Dan ternyata bukan hanya gue yang mengalami itu, semua mengalami hal yang sama. 2020 is so depressing for everyone.
But, lately gue sadar bahwa ini adalah sebuah bentuk dari sifat denial gue terhadap keadaan. Gue tidak menerima dengan lega semua kondisi-kondisi yang tidak gue ekspektasi diawal, sehingga penerimaan gue akan semua kondisi ini membuat emosi gue turun naik. Karena pada dasarnya manusia tidak mudah menerima kondisi yang tidak sesuai.
Pada akhirnya ini kembali ke bagaimana kita menerima keadaan, terima keadaan dan mengolah itu menjadi sesuatu yang menyenangkan seharusnya menjadi sebuah adrenalin baru yang harusnya menjadi asupan yang gue cari selama ini. Selama ini, gue terlalu stuck pada zona nyaman yang dulu pernah gue terima, sampai akhirnya gue menjadi gelisah karena zona nyaman itu berubah menjadi zona yang aneh, dan gue tidak menerima itu.
Berhenti menjadi orang yang denial akan semua keadaan karena keadaan tersebut tidak sesuai dengan ekspektasi.
Bagaimana kalau gue menguji diri gue sendiri untuk bisa tetap bangun pagi and workout every morning? dimana kalau gue bekerja dan pergi ke kantor gue tidak punya waktu untuk itu.
Bagaimana kalau gue menantang diri gue sendiri untuk masak tanpa harus beli ke warung dengan uang 'sekian rupiah'?
Bagaimana kalau gue mencoba untuk kembali menulis dan aktif blogging, share apapun yang gue rasakan selama ini, so gue bisa menuangkan apa yang gue rasakan dan yang gue tahan selama ini?
Bagaimana, kalau gue menciptakan adrenalin gue sendiri?
Adrenalin kan, tidak harus datang dari orang lain. Menantang diri sendiri adalah satu bentuk adrenalin baru yang justru, lebih menantang karena munculnya dari diri sendiri. Hasilnya, ya untuk diri sendiri juga. Memaksa diri sendiri untuk berpola pikir lebih dewasa, menjadi produktif dengan cara sendiri, menjadi tidak membosankan untuk diri sendiri.
Walaupun, tetap saja semua tidak mudah dan gue masih nyaman dengan zona nyaman gue yang dulu. Life never gonna be easy, right?
Komentar
Posting Komentar
Please don't be silent reader, just here and left your comment and i will be glad to see :). NO SARCASM COMMENT and SARA !