Rinduku, kepada mereka.

Malam ini, aku ingin bicara tentang rindu.

Benar kata dilan, rindu itu berat. Jikalau rindu adalah uang yang bisa hitung, maka akan tak ternilai jumlahnya. Jikalau rindu adalah bentuk dari rasa sakit, maka tidak akan ada manusia yang mampu menahan rindu.

Ya, itulah rindu.

Di masa ini, hanya di representasikan kepada pasangan. Mereka yang merasakan rindu, adalah mereka yang sudah lama tak bersua dengan kekasihnya, mereka yang sudah tak lama memeluk pasangannya, mereka yang sudah lama tak bertegur sapa. Namun apakah kau tau? Rindu.. adalah sebuah kata yang memiliki makna, jauh dari sekedar itu.
Aku, saat ini sedang amat sangat rindu, serta amat sangat gundah.

Mengapa?

Jawabannya, karena rinduku sangatlah luas.

Rinduku kepada keadaan jauh lebih menyakitkan, karena aku tidak bisa kembali bahkan tidak bisa merasakannya kembali. Rinduku kepada 'masa itu' lebih sakit ketimbang mengingat orang-orang yang terlibat didalamnya, dan rinduku tidak ada obatnya. Karena rinduku, jatuh kepada rindu tentang kenangan. Rinduku, jatuh padanya yang tak mampu lagi aku gapai dan aku ulang kenangannya.

Hari ini, aku baru menyadari makna dari kalimat 'jadilah yang terbaik setiap harinya, karena apa yang kau alami atau kau dapatkan hari ini tidak akan terjadi lagi di kemudian hari'. Begitulah mengapa manusia diharuskan untuk melakukan yang terbaik dalam bentuk apapun setiap harinya.

Dan, hari ini rinduku diiringi dengan rasa penyesalan yang begitu dalam. Kenapa, pada saat itu aku tidak mempresentasikan yang terbaik dari diriku? Kenapa banyak hal yang terjadi dan berakhir dengan tidak baik hanya karena aku tenggelam dalam ego dan emosi yang tidak terkendali?

Aku selalu belajar untuk mempersembahkan yang terbaik sebisaku setiap harinya, sampai hari ini. Karena kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi nantinya.

Sedikit banyak, penyesalan itu selalu datang setiap sepertiga malam dikala mata tak mampu terpejam. Teringat semua masa-masa itu dan diriku saat ini, hanya mampu berkata 'kamu bodoh!', 'kenapa kamu seperti itu?', 'kenapa pada saat itu kamu terlalu larut dalam ego?'

Dan penyesalan, hanya menjadi sebuah penyesalan karena tidak ada yang bisa diperbaiki dari masa lalu, tapi kita bisa memperbaiki masa depan.

Kadang-kadang, rindu itu aku buat menjadi sebuah pengingat apabila aku lupa kalau hari ini aku lalai. Sebagai pengingat untuk tidak kembali membuat kesalahan seperti dulu. Sebagai pengingat bahwa dulu pernah ada sebuah kesempatan yang besar, namun sama sekali tidak aku manfaatkan dengan baik. Sebagai pengingat bahwa, jadilah yang terbaik dari sebuah penyesalan.

Iya, aku rindu. Rinduku jatuh bukan hanya sekedar tentang rindu. Rinduku tak bisa terbalaskan. Karena rinduku, hanya rindu yang bergerak pada satu arah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What If...

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.