Tentang Aku, dan Masa Lalu.

Hallo, 2020. Apa kabar kamu hari ini? Baik? Semoga baik-baik saja. Tidak seperti aku yang pakai topeng tebal demi menghilangkan raut wajah asliku. Iya, you sucks. 2020 is completely unexpectedly more fucked up than I expected. But, there is a lot of good things happen to, tho.

Sebentar lagi sudah penghujung 2020. Well, every single year I wrote a very short summary about how's my life going in the whole year. Dan gue masih disini ketika gue mulai menulis di blog ini 11 tahun yang lalu. Yup, 2009.

Kalau boleh dibilang semua isi blog ini rata-rata tentang love story. How I start my first love, how I get my first broken heart, how I start having a very long relationship with someone, how I feel about emptyness, and how I fall in love again with unexpected time. Well, semua ada di draft sih. Ada juga beberapa tulisan lain dan beberapa catatan gue yang lain. But I love it. Ketika gue baca ulang semua, gue sadar bahwa jejak digital memang membawa sedikit banyak kenangan kepada setiap orang yang pernah menuangkannya. Mereka yang pernah mengungkapkan cerita mereka sebagaimana bahagia, sebagaimana sedih, sebagaimana cinta, sebagaimana pelik nya mereka dengan gaya masing-masing. Every single person has their phase.
 
2020 menurut gue adalah tahun yang paling punya paket lengkap dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kenapa gue bilang paket lengkap? Karena semua naik turun hidup gue ada di semua fase. Semua campur aduk jadi satu. Apakah ini menunjukan bahwa gue sudah cukup tua? Makanya masalah hidup gue sudah semakin complicated? Well, may be yes, may be no. Dan gue yakin 2020 merupakan tahun paling dikutuk sama banyak orang. Iya, tahun yang paling mengerikan, diantara tahun-tahun yang lain.
 
Baik secara gue pribadi, 2020 punya warna yang beda. Tahun ini, pertama kalinya gue keluar dari zona nyaman kerja gue dan melangkah buat dapetin one more step up dari sisi karir. Tahun ini, gue kembali fokus untuk finish what I haven't. Tahun ini, gue kembali mencoba untuk have in faith on someone again. Tahun ini I fought for my past. Tahun ini, I am 25 years old. Yes, a fucking quarter life crisis. Oh waw so unbelievable. Gue? 25 Tahun? Gila kali.

Dan ditahun ini juga gue sadar kalau gue secara tidak 'sadar' menjalani hidup secara 'auto pilot'. No plans, no target. Just, live goes on. Dan itu adalah sesuatu yang tidak gue sadari membuat gue jadi 'gini-gini' aja.

Tapi pada akhirnya, say thanks to 2020 and everything that happen, bahwa gue sudah gak bisa lagi hidup 'auto pilot', atau hidup dengan mengutamakan orang lain diatas gue dan orang lain diatas segalanya. 2020 kasih gue pelajaran dan tamparan yang sangat besar, dan gue berterimakasih akan hal itu.
 
Ada banyak orang yang kasih gue insight yang berbeda, dan memberikan gue titik cerah bahwa, hidup itu, you have a full control on it. Gue yang bisa bawa hidup gue mau kemana, dengan siapa, seperti apa. Gue punya kendali penuh untuk memutuskan apa yang akan gue lakukan kedepan.
 
Sekali lagi, ngga habis-habis gue bilang, 2020 sucks. 2020 is such a roller-coaster. Dan gue, sudah gak punya harapan apa-apa untuk 2021. Nope, bukan maksudnya gue putus asa dan tidak mau menjalani hidup yang lebih baik. Tapi gue hanya tidak mau mengharapkan sebuah kebahagiaan yang belum tentu gue bisa dapatkan. Gue cuma mau 2021 gue berjalan sesuai rencana yang sudah gue siapkan. Udah, simple gak neko-neko. Gue udah gak mau taruh harapan banyak-banyak yang akhirnya gue jatoh ketimpa tanggal, kelindes trus abis itu dimakan cacing. It hurts, so badly.

Satu hal yang gue paling sadari adalah ternyata gue belum siap untuk menjadi dewasa. Gue belum siap untuk bertambah tua sedangkan waktu terus berjalan tanpa henti. Gue belum siap untuk menjadi seseorang dengan pemikiran yang tepat, pola pikir yang tepat. Gue masih impulsif, semua terkadang masih dibawa pakai perasaan, hard to control my anger management, masih gampang judge orang dari satu sisi, masih gampang nilai orang dari luarnya, masih sulit untuk membaca keadaan, masih sulit untuk membuat keputusan, masih kebawa masa lalu, well.. I'm not ready. Well, I bet no one could ever be ready to be an adult.
 
Gue masih suka day-dreaming about something that I shouldn't think about. Gue masih suka ngebayangin sesuatu yang justru bikin gue insecure sendiri. Ada banyak perubahan dalam diri gue seiring berjalannya waktu, dari gue yang sangat sabar menjadi orang yang tidak cukup sabar, dari gue yang 'yasudahlah' menjadi orang yang 'kenapa sih?', dari gue yang biasa legowo untuk nerima semua keadaan sekarang tidak bisa terlalu legowo. Entah, sesuai yang baik yang harusnya gue pelihara justru hilang termakan emosi dan perasaan. Dan secara tidak sadar itu menjadi toxic dan sangat korosif untuk gue sendiri.

Gladly, I realize it sooner. Sekarang gue sadar ada sedikit sifat-sifat toxic yang nempel didalam diri gue. efek dari masa lalu yang tidak termaafkan dan berimpact besar buat gue sendiri. Efek dari masa lalu yang bikin gue jadi pribadi yang egois, insecure, impulsive, and I know how it started. Karena ketakutan gue akan hal-hal tersebut akan terjadi lagi, so I defend myself with those toxicity action. Padahal nggak kok, nggak harusnya gue kayak gitu.
 
But, sekali lagi. Thanks to 2020 gue sekarang jadi lebih tau gue harus apa, dan gue harus bagaimana. Hal yang paling penting yang gue pahami adalah, ketakutan yang nggak perlu akan sesuatu yang tidak gue ketahui adalah sesuatu yang sedikit banyak bikin gue jadi korosif. Ketakutan akan sesuatu yang terjadi berulang juga nggak perlu. Ketakutan untuk sesuatu yang belum pernah gue coba adalah sebuah kemunduran. Well, kenapa harus takut? Karena yang perlu disiapkan dari gue bukanlah menyimpan rasa takut dan mengira-ngira kapan ketakutan itu jadi sebuah kenyataan, tapi tentang bagaimana kita menanggapi semua masalah dan solve the problem. And yes, padahal gue sering nyeramahin orang soal ini tapi implementasi di gue nya pun masih minim. Hahaha, sorry not sorry. Semua perasaan sedih, marah, kecewa, merasa down dan gagal itu ya kita sendiri yang kontrol, mau tenggelam didalam perasaan tersebut berlarut-larut, atau coba menerima dan menanggapinya dengan cukup bijak. You choose, it's you and only you who can control it.
 
So, Terimakasih 2020. But still, you sucks

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What If...

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.