What If...

Pasti ada, dalam satu waktu kita itu merasakan yang namanya penyesalan. Penyesalan luar biasa yang terasa sangat sangat menyebalkan dan menyakitkan kalau misalnya mengingat apa yang kita lakukan selama ini tidak sesuai dengan apa yang kita mau.
Rasanya yang namanya ngomongin penyesalan tuh, ga abis-abis sih. Sama kayak tadi, lagi mandi tiba-tiba kepikiran, hmm.. What if...?

Didalam otak gue, skenario what if...? itu banyak banget. Malah hampir setiap hari sebelum tidur semua skenario itu kayak muter aja otomatis diotak. Semakin lama gue hidup, semakin banyak skenario-skenario what if...? yang menjadi bentuk dari penyesalan kenapa gue merasa, saat ini, gue masih dititik yang disini-sini aja.

Just, for an example..

What If...? Dulu gue memilih untuk ngga berhenti buat taekwondo?
What If...? Dulu gue tetep fokus untuk ngejar karir dan kuliah belakangan?
What If...? Dulu gue diizinkan untuk ikut pertukaran pelajar ke Jepang?
What If...? Dulu gue diizinkan untuk ikut ekspedisi ke papua?
What If...? Dulu gue lebih taking risk dari yang sebelum-sebelumnya dan berani untuk ngambil keputusan ekstrem?
What If...? Dulu gue gak menolak panggilan-panggilan interview perusahaan cukup ternama hanya karena termakan idealis?
What If...? What If...? What If...? Dan what if-what if lainnya

Bisa jadi gue jadi orang yang berbeda sekarang, bisa jadi jauh lebih baik, bisa jadi jauh lebih buruk. Ngga ada yang tau. Yang gue sadari sampai hari ini adalah banyak banget peluang-peluang besar yang gue lewati semasa itu. Peluang yang bisa mengubah gue jadi orang yang, mungkin, bisa jauh lebih dari ini. Bisa jauh dari posisi yang sekarang.

Gue lupa, kalau gue harus mikirin plan 5-10 tahun kedepan. Gue lupa, kalau idealis dan egoisme gue pada saat itu menghilangkan peluang emas yang bisa saja gue dapetin. Gue lupa, hidup itu nggak cuma untuk nikmati di hari ini dan esok doang. Lupa.

Hidup gue gak buruk-buruk banget sih, pada saat ini. Dibilang nggak punya penghasilan engga, ngga punya pacar juga engga, buruk dari sisi ekonomi juga engga, susah juga engga. Cuma, karena banyak keputusan-keputusan impulsif yang gue ambil, pada akhirnya menyusahkan diri gue sendiri.

Balik lagi, banyak penyesalan yang muncul terjadi karena gue melewatkan peluang emas yang gue punya. Gue bukan tidak mensyukuri apa yang gue punya pada hari ini, tamak buat gue kalau gue bilang gue susah atau gue gak sukses, tamak kalau misalnya gue bilang hidup gue gak beruntung. Gue mengkhianati Tuhan dong, yang selama ini udah banyak ngasih kenikmatan buat gue, dan apa yang gue rasain sampe hari ini.

Gue cuma ada dalam posisi dimana, sudah tidak seharusnya gue di posisi ini, atau mungkin karena gue merasa 2 tahun terakhir tidak ada perkembangan yang cukup signifikan. Atau bahkan, 5 tahun terakhir? Who knows.

Beberapa hari ini gue lebih menikmati penyesalan itu, meresapi, menerima, loh ini salah gue yang belum bisa mengambil keputusan tepat untuk hidup, loh ini salah gue yang masih meremehkan peluang-peluang yang masuk, loh ini salah gue yang masih nyantai menanggapi hidup. Well, karena apa yang terjadi sama gue ya kurang lebih atas keputusan yang gue jalanin sendiri, walaupun ada orang lain yang terlibat didalamnya.

Gue, gak bisa nyalahin siapa-siapa karena menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi sama gue saat ini adalah bentuk dari ketidakterimaan gue akan kenyataan. Orang lain memang, ya, punya andil besar yang menjadi salah satu bagian pembentukan hidup, tapi menyalahkan mereka bukan bagian dari penyelesaian.

Penyelesaiannya adalah, sekarang, bagaimana cara mengubah What If menjadi How If...?

Gerak, sepertinya gue perlu merombak rencana dan mengulang timeline rencana. Rencana yang lama yang gue jalanin, gak bisa jalan sekarang, tapi yang gue tau, gue masih punya waktu untuk menyusun ulang apa yang bisa gue jalanin.

Tapi, kalau lagi ngerasa jatuh dan patah tuh rasanya emang kayak anjing sih, hahaha. Rasanya seisi dunia ini tidak mendukung dan apa yang lu lakuin ga berbuah apa-apa, padahal cuma prespektif lu aja yang sedikit digunjang dan harus berubah. Lagi patah semangat memang perlu motivasi yang kuat buat bisa naik lagi, mau segimanapun orang lain disekitar lu bilang kalau lu bisa, tapi kalau diri lu sendiri ngga kuat motivasi, mau jadi apa dan mau gerak kayak gimana? Kalau orang lain aja bisa mendukung lu dan percaya kalau lu bisa, kenapa diri lu sendiri aja engga?

Tapi, gue lagi patah ya, bangsat.

Dan siklusnya berulang-ulang begitu terus.

Semangat ya, yuk bisa yuk, walaupun sekarang gue lagi ngerasa ngga bisa ya anjing, tapi semangat yuk bisa yuk. 

Inget ada banyak orang di sekeliling lu yang percaya sama lu kalau lu bisa.

BISALAH, NYET!

Komentar

  1. What if.. Jika penulis tulisan blog ini "Astria Safari", beneran pemesan paket ayam goreng yang nyasar diantarkan kerumah saya siang tadi. Rabu, 13 April dia ribu dua puluh dua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. apa boleh, ini terjadi setahun lalu dan gue memang pernah pesen ayam goreng dan nyasar tapi gue lupa :)

      Hapus

Posting Komentar

Please don't be silent reader, just here and left your comment and i will be glad to see :). NO SARCASM COMMENT and SARA !

Postingan populer dari blog ini

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.