Berjuang Untuk Hidup, Tidak Sebercanda Itu.

Hari ini hari minggu, 29 Agustus 2021. Pukul 16:10 gue sendirian di apartement menatap laptop. Bengong, sambil terkadang menatap ke balkon apartement dan menatap langit, lalu mengeluh dalam hati "Damn, this is hard."

Gue sudah hidup hampir 26 tahun, dan sebentar lagi dalam hitungan bulan masuk ke 27 tahun. Semakin hari semakin sadar bahwa hidup itu berat. Rasanya ingin saja mengeluh setiap hari, tapi tamak rasanya kalau jadi manusia yang kerjaannya sedikit-sedikit mengeluh sama keadaan.

Bukan.. Bukan.. disclaimer to this post gue sedang tidak merasa tidak bersyukur akan karunia yang diberikan Tuhan, bukan. Bukan itu pointnya. Hanya... gue hanya lelah setiap kali harus berfikir bahwa "shit, everything is getting hard day by day"

Entah apa yang Tuhan rencanakan ke gue, sehingga jalan hidup gue seperti ini, tapi gue yakin bahwa ada tujuan baik dibaliknya di setiap apapun yang terjadi dalam kehidupan gue. Setiap tahun punya rasa dan kesan yang berbeda memang.

Gue mau bilang ke gue pada saat gue umur 22 tahun waktu itu, 'Lo ngga siap bro. Lo nggak siap buat jadi dewasa dan melalui tantangan berat setiap harinya'. Harusnya di umur 22 tahun itu, gue lebih prepare untuk mempersiapkan hidup, bukan malah 'main-main'. Berjuang hidup itu tidak sebercanda itu, sayang.

Gue merasa banyak hal yang gue sia-siakan dulu. Banyak sekali. Seharusnya gue udah di lantai 17, gue masih dilantai 10. Ketinggalan 7 langkah dari yang seharusnya. Gue harusnya bisa dan SANGGUP melakukan banyak hal, dan explore lebih banyak dari yang sekarang.

"Hidup lu tuh lebih beruntung dibandingkan orang lain bro, harusnya lo lebih bersyukur"

Iya iya, tau. Please jangan ajarin gue untuk bersyukur, jangan ajarin gue untuk sabar, jangan ajarin gue untuk ikhlas. Karena gue tau gue sudah melakukan itu semua. Tapi kalimat tersebut bukanlah kalimat yang membuat gue malah "iya ya, harusnya gue lebih bersyukur" karena ngga ada yang tau seberapa rasa syukur gue sama Tuhan, buat apa yang gue dapet sekarang.

Cuma memang, serius untuk menjalani hidup itu kadang menghabiskan banyak energi sih. Dan menurut gue adalah hal yang sangat wajar ketika satu dua kali dalam hidup kita misuh.

Gue pernah kok, nangis sesenggukan karena ngerasa capek kerja. Pernah. Nangis dan ngeluh seada-adanya kalau gue tuh capek. Fisik gue capek, mental gue capek, abis di gerus sama tuntutan ini itu, harus kerja hampir 20 jam dalam sehari, ngejar target dan deadline yang setengah mampus. Dikejar orang banyak dan ngerasa gue ga sanggup buat lanjutin. Tapi apa semua itu membuat gue mundur? Nope, gue masih tetap lanjut dan berhasil menembus perbatasan sanggup gue dan memberikan bukti bahwa semua itu bisa gue lewatin dengan baik.

Gue pernah kok, nangis sesenggukan karena ngerasa capek hidup. Pernah. Ngeluh seada-adanya sama Tuhan bahkan sampe ngatain kalau Tuhan itu ngga adil. Merasa marah sama Tuhan karena gue jatuh berturut-turut dan terus menerus, sampe dititik yang bahkan untuk berdiri aja gue ngerasa ngga sanggup. Tapi apa semua itu membuat gue berhenti untuk hidup? Engga juga. Buktinya gue masih disini, melanjutkan hidup gue selayaknya manusia pada umumnya.

Gue pernah kok, menangis sesenggukan karena gue ngerasa gue ga beruntung. Pernah. Ngeluh seada-adanya karena gue ngerasa setiap keputusan gue adalah keputusan yang salah. Makanya setiap kali gue mengambil tindakan pasti berujung salah. Tapi apa semua itu membuat gue berhenti mengambil keputusan? Nggak juga.

Kali ini, gue cuma pengen mengeluh. Semakin gue melihat masa depan, semakin gue merasa menggapainya sulit. Bukan tidak bisa, tapi sulit. Semakin gue melihat masa depan semakin banyak resiko yang akan terjadi. Kalau gue tidak berfikir dari sekarang bagaimana cara untuk menghadapinya, my world fall down into ashes bro. 

Uniknya, tantangan Tuhan itu memang unpredictable. Gue selalu merasa bahwa, yang pertama kali mendengar keluh kesah gue dan mengerti adalah Tuhan. Dan Dia paling ngga suka kalau gue bilang 'Tuhan, gue gabisa'.

Bukan memaksa diri untuk selalu bisa, tapi untuk meyakinkan dan meyakini diri sendiri bahwa ketidakbisaan itu hanyalah alasan untuk tidak melangkah lebih jauh aja. Kadang ketika lo ngomong kalau lo gabisa, secara tidak sadar lo menghentikan diri lo dan membatasi diri lo dalam garis aman. Padahal, lo mampu dan lo sanggup buat jalanin apa yang lo gabisa.

Sesimple kayak 'gue gabisa bawa mobil' and boom Tuhan kasih jalan buat bikin gue bisa. Bisa, ngga harus jago. But still, it proves that you can do it.

Yang saat ini bikin gue gak nyaman adalah ketika kekhawatiran gue akan ketidakbisaan gue menggapai masa depan yang gue mau itu membuat gue gelisah. Terlalu banyak pemikiran-pemikiran bodoh yang masuk ke otak gue dan bilang ini-itu yang belum tentu terjadi. Dan akhirnya bikin gue ngga nyaman dan gue ngga tenang. Rasa pengen ngatain otak sendiri terus ngomong, berhenti mikir kek nyet, jangan bikin gue panik.

Yah, berjuang untuk hidup itu tidak sebercanda itu memang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What If...

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.