Early Welcome, 2023.

Terkadang setiap umat manusia itu perlu waktu untuk bisa menikmati hidup. Dan mereka, tak bosan-bosannya terus-terusan mencari kenikmatan tersebut. Dan setiap manusia mempunyai cara dan jalan yang berbeda-beda untuk menikmati hidup mereka.

Unconsiously I always comeback to this blog, near the end of the year. Just to saw my previous post and what is happening back then. Every single time I came and has a slightly flashback about everything, the more that I believe that slowly, but sure, I am growing up as a person, could be more human, or less human.

Gue bukan orang yang cukup agamis dalam menjalani hidup, tapi gue percaya kekuatan tuhan dan semesta itu kuat dan sangat powerful.


Tahun lalu, gue ada di ujung tanduk. Merasa diri gue ini tidak tahu apa-apa dan tidak tau mau kemana arah hidup gue  pergi. Semakin melihat orang lain, semakin melihat mimpi-mimpi gue yang tidak tercapai. Semakin gue merasa bahwa hidup gue, tidak berjalan sesuai seperti apa yang gue mau. Bukan. Bukan ini bukan hidup yang gue mau, pada saat itu. Bukan, ini bukan hidup yang ada diangan dan mimpi gue. Pikir gue pada saat itu.

Selama beberapa tahun gue meyakinkan diri gue bahwa, akan ada saatnya dimana gue akan merasakan hal-hal dan meraih mimpi-mimpi yang gue mau. Gue berangan-angan untuk selalu ada ditempat dimana pada saat itu gue berada dititik dimana "ini. inilah yang gue mau".

Tapi, hasilnya, semakin gue berangan-angan semakin gue merasa bahwa gue kehilangan arah dan waktu. Gue lepas dari tujuan hidup gue yang seharusnya. Gue kehilangan tujuan. Gue jadi abu-abu. Kemana gue harus pergi? Kemana gue harus melangkah?

Kadang, gue bersyukur pada tuhan menjadikan gue seorang yang, bisa dibilang, workaholic. Working is the higher hierarchy of my priority. Karena menurut gue, bekerja adalah salah satu cara untuk mencapai tujuan hidup dan mimpi-mimpi gue, yang saat itu hanya ada diangan-angan gue aja.

Gue juga bersyukur tuhan menjadikan gue menjadi seseorang yang tidak pernah perduli tentang omongan dan komentar orang lain, berpegang teguh pada prinsip yang gue lagi jalanin, dan tidak pernah menganggap omongan orang lain adalah hal yang perlu gue indahkan dan gue dengar, walaupun terkadang, ketika gue punya ikatan sama seseorang, omongan dan komentarnya akan menjadi hal yang paling gue dengar dari yang lain.

Gue kehilangan arah, pada saat itu. Gue seperti ada diujung jembatan warna abu-abu yang memberikan oasis mimpi yang bahkan bisa gue modifikasi dan gue manipulasi kapan saja tergantung kondisi emosi gue pada saat itu. Pada akhirnya, lama kelamaan gue jadi campur aduk dan kehilangan marka jalannya.

Awal tahun 2022, gue memutuskan untuk memfokuskan diri gue pada satu titik. Kerja. Cari Uang. Terdengar ambisius? Iya. Itu yang sering dilihat orang lain yang hanya mampu menggali permukaan tanpa ada keinginan untuk mengetahui karakter tanah  yang ia gali. Terkesan menjadi sangat matrealistis karena gue akan melakukan apapun demi uang.

But, the fact is, working was my one of coping mechanism and a way out to find my life purposes.

Menurut gue, dengan bekerja kita akan melihat banyak hal. Bekerja bukan tentang hanya menjadi bukan korporat dan memperkaya orang lain dengan mengasah skill sendiri dibalik meja, bekerja itu tentang berkembang, tentang belajar mengatasi masalah yang berbeda-beda setiap harinya, tentang mengendalikan emosi dan belajar menempatkan emosi ditempat yang tepat. Belajar melihat banyak karakter manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Belajar untuk legowo.

Belajar untuk melihat keatas, dan kebawah secara seimbang.

Belajar untuk mengambil resiko dan melihat segala peluang.

Belajar tentang dunia.

Balik lagi, apa yang dilihat orang tentang bekerja bisa jadi berbeda tergantung dari prinsip dan mindset setiap orang masing-masing.

But for everyone who read this, I never put money on my first priority when comes to work. Gue selalu bilang sama orang lain, jangan pernah mengincar uang dihari pertama anda bekerja, bekerjalah untuk belajar dan menjadi lebih baik setiap harinya. Itu, yang akan membuat secara perlahan uang akan mendatangi anda, tanpa anda sadari.

That what I was doing, in early 2022.

Turns out, that was great. Everything good happen in the first quartal 2022. Banyak hal dan banyak masalah yang sebelumnya menjadi beban gue, terselesaikan satu persatu. I was, slowly going back to the path that where I should be walking. I almost forgot that, the only one thing that makes me becomes so clear and peaceful in my life was, knowing my purposes.

Gue lupa, bahwa menikmati hidup itu bukan tentang mengeluhkan apa-apa saja yang tidak sesuai dengan ekspektasi, tapi menikmati hidup adalah mampu menjalani hidup apa adanya.

Ada banyak tujuan-tujuan hidup yang, gak perlu muluk jadi miliarder dan sultan kayak Raffi Ahmad, nggak. Sesimple, bisa makan enak, bisa makan sushi sepuasnya, bisa jalan-jalan, bisa nongkrong, bisa nonton.

Pada akhirnya, gue kembali memilah mana yang perlu gue perjuangkan mana yang tidak.

Seiring berjalannya waktu, ada banyak peluang yang terbuka, dan kesempatan yang bahkan mungkin tidak dapat lu dapat kembali dilain waktu. Dan gue sudah tidak mau menghilangkan atau melewatkan kesempatan yang gue dapat. Mengorbankan banyak hal?

Yes. Of course.

Gue mengorbankan waktu, tenaga, fikiran, dan yang menurut gue sampai sekarang, gue tidak salah mengambil keputusan tersebut. Meninggalkan hal-hal yang ternyata tidak mampu mengikuti ritme, dan meninggalkan hal-hal yang berpotensi menarik gue kebelakang.

Gue sudah berlari semampu gue, dan gue akan berlari sampai kapan pun itu.

Dan seiring berjalannya waktu dan tahun 2022, terlihat ada banyak hal yang bisa gue raih dan gue capai, hasil dari pengorbanan tersebut yang tidak bisa gue sebutkan satu-satu disini. Tapi, apa yang gue capai dan gue coba catat satu persatu di catatan pribadi gue adalah, semua yang gue impikan tercapai sedikit demi sedikit diakhir 2022.

Dan, gue berniatan 2022 adalah tahun terakhir gue mementingkan orang lain diatas gue sendiri. 2022 adalah tahun terakhir dimana gue mengorbankan diri sendiri dan keinginan diri sendiri demi orang lain. 2022 adalah tahun terakhir dimana gue hampir mengubur semua mimpi gue dan hidup pasrah. 2022 adalah tahun terakhir untuk itu semua.

2023 adalah gue. Gue yang baru, gue yang tidak mau perduli akan orang lain. Gue yang akan mengejar lebih keras lagi, pencapaian gue yang tertinggal dan gak terlaksana di tahun-tahun sebelumnya. 2023 akan menjadi tahun ter-egois gue. Sudah cukup gue menurunkan ego demi orang lain, cukup gue mencoba mengalah dan mengatur ritme dengan orang lain.

Dan penghujung 2022 adalah benar-benar moment dimana gue tersadar bahwa, memang sudah tidak saatnya gue berkorban dengan orang lain.

Ada banyak pelajaran hidup yang terjadi di 3 hari terakhir 2022, pengalaman orang lain yang gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, seakan menyadarkan gue bahwa menangis meratapi hidup yang tidak sesuai ekspektasi adalah kesalahan dirimu sendiri karena dirimu tidak mampu mengoptimalkan kemampuan hidup dan peluang hidup. 

Menyalahkan semesta akan apa yang terjadi pada dirimu sendiri hanya akan membuatmu mengambing hitamkan tuhan karena tuhan tidak pernah memberikan cobaan berat yang hambanya tidak mampu lalui.

Pasrah adalah sesuatu yang tidak pernah tuhan ajarkan kepada hambanya, begitu pun semesta.

Hidup itu sudah sulit dan berat, dan banyak orang mempersulit diri sendiri dengan menyalahkan tuhan karena memberikan hidup yang tidak sesuai dengan mimpinya. Padahal, mimpi akan selalu jadi mimpi kalau dirimu tertidur, untuk mewujudkan semuanya, kamu harus bangun dan jalani hidup.

Kalau kata Stray Kids, you are all have your own pace. Diri lo sendiri lah yang bisa menentukan ritme dan mau lari sampai mana, jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain karena semua orang punya pace nya masing-masing.

One more thing. 2023 I am going to stop to be other people streetlights. I am the streetlight for my own self. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What If...

[Semester 1] Senayan City - Pasar Minggu

Hello, 30 minus 1.